Sejarah PKS

Pada tahun 1952, para perantau di Jakarta sepakat untuk mendirikan suatu perkumpulan yang semula dinamai SSp (Silungkang Sepakat), namun karena kata-kata Sepakat sudah digunakan oleh perantau asal Sulit Air, maka kemudian disepakati nama perkumpulan tersebut menjadi Persatuan Keluarga Silungkang.

Ketua PKS yang pertama adalah H. Bakri Khatab asal Panai Ompek Rumah yang pada waktu itu baru berusia 32 tahun, dan sekretariat beralamat dirumah beliau di Jl. Kramat II. Kegiatan dan tujuan pendirian PKS ini awalnya hanya untuk sarana para perantau berkumpul dan juga membantu menampung para perantau yang baru datang dari kampuang. Pada zaman itu penduduk Jakarta baru sekitar 1.800.000 orang dan wilayahnya belum seluas sekarang. Kalau ada yang baru datang dari kampuang, biasanya jadi pembicaraan perantau. “Oh…. si Anu dasanak si anu baru datang dari Silungkang”.

Jabatan ketua PKS ini, pernah juga dipegang oleh H. Harmon dan sekretariat juga pindah kerumah beliau yang semula di Jl. Timor, Menteng kemudian pindah ke Jl. Cilosari.

Regenerasi kepengurusan PKS terjadi pada tahun 1979 yang dipegang oleh H. Anas Amin sampai tahun 1981. Sekretariat organisasi pindah ke Jl. Bendungan Hilir IV No. 18 menumpang di Gedung Koperasi Kemauan Bersama. Pada periode inilah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) PKS pertama disusun oleh suatu tim beranggotakan 9 (sembilan) orang yaitu: Masri Ayat, Zuhairy, SE, H. Djonal Ismail, Maas Malin Mancayo, H. Marzali Ibrahim, H. Harmon, Hasan Raid, H. Ismail Ghazali, dan Syafar Habib, SH.

Didalam mukadimah Anggaran Dasar PKS Jakarta disebutkan bahwa tujuan berdirinya PKS Jakarta adalah untuk menjalin dan mempererat tali silaturrahim antara sesama anggotanya. Keanggotaan PKS ini berlaku secara otomatis bagi orang Silungkang, yang bertalian darah dengan orang Silungkang, sumando dan sumandan orang Silungkang yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Ketua PKS periode 1981 – 1983 dijabat oleh H. Ajar Ruslan. Kemudian dari tahun 1983 dilanjutkan oleh Dr. Zamzami Basir untuk masa dua periode sampai tahun 1986, tetapi beliau mengundurkan diri sebelum berakhir masa jabatannya. Pada sisa periode kedua kepengurusan beliau dimintalah H. Ajar Ruslan menjadi caretaker sambil menunggu pemilihan ketua definitif selanjutnya. Pada masa kepengurusan Dr. Zamzami Basyir inilah lahan tempat berdirinya Gedung Pertemuan PKS Jakarta ini dibeli seharga Rp. 50 juta.

Dari tahun 1985 sampai dengan tahun 1996, ketua PKS dijabat oleh Syafar Habib SH. Pada masa kepengurusan beliau ini kegiatan PKS Jakarta lebih banyak terfokus untuk mimikirkan warga Silungkang yang tinggal di kampuang halaman, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan situasi politik pada masa itu. Pada periode ini pula hubungan PKS Jakarta dengan pemerintah daerah Tingkat I Sumbar dan Sawahlunto terjalin cukup baik.

Hasil kerja yang cukup menonjol dalam kepengurusan di zaman bapak Syafar Habib ini adalah pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Gajah Tongga, renovasi Masjid Raya Silungkang pada tahun 1995, dan pembangunan Puskesmas Silungkang.

Rapat anggota PKS Jakarta tahun 1996 memilih dan menetapkan Irwan Husein sebagai ketua umum periode 1996 – 1998. Pemilihan ketua umum pada periode ini jauh lebih mudah dibandingkan pengalaman sebelumnya karena calon ketua umum langsung bersedia untuk dipilih, sedangkan pada penggantian-penggantian pengurus sebelumnya hampir semua calon menolak jika diusulkan menjadi ketua umum. Pada periode ini diadakan perubahan sistem perwakilan anggota atau warga dari sistem rayon menjadi perwakilan andiko dengan pertimbangan antara lain:

  1. Jakarta yang semakin luas dan padat serta domisili anggota yang sangat menyebar, menyulitkan komunikasi ketua-ketua rayon dengan anggotanya.
  2. Komunikasi antar warga dari satu andiko dipandang masih tetap berjalan dengan baik karena ada kepentingan-kepentingan dalam hal perkawinan dan kemalangan. Dengan sistem keterwakilan melalui andiko/kampuang yang identik dan jumlahnya sama dengan jumlah kampuang di Silungkang, maka kekuasaan tertinggi berada pada rapat andiko. Sayangnya perubahan ini belum disertai dengan perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi.

Pergantian pengurus selanjutnya diadakan dalam bentuk rapat andiko yang diselenggarakan di salah satu ruangan di Mesjid Agung Al-azhar, Kebayoran Baru pada tahun 1998. Rapat menerima laporan pertanggung jawaban pengurus periode 1996 – 1998 dan sekaligus menyetujui Drs. H. Helmy Hel Syamsuddin sebagai Ketua Umum periode 1998 – 2001. Kepengurusan dibawah Drs. H. Helmy Hel Syamsuddin ini berlanjut dua periode yaitu sampai tahun 2004.

Pada periode kepengurusan Drs. H. Helmy Hel Syamsuddin inilah dimulai renovasi gedung PKS Jakarta dari gedung serba guna/hall bulu tangkis menjadi yang seperti ada sekarang ini. Pada periode ini juga terbentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ) PKS Jakarta.

Pemilihan pengurus periode 2004 – 2007 oleh rapat andiko menorehkan suatu catatan baru dalam sistem pemilihan ketua umum PKS Jakarta. Pada rapat andiko ini muncul lebih dari satu orang calon yang diusulkan untuk menjadi ketua umum, dan akhirnya dari sekian orang yang diusulkan mengerucut menjadi dua orang calon. Keduanya pun bersedia menyampaikan visi dan misi dihadapan rapat andiko. Akhirnya dengan suara 11 berbanding 7 dari 18 andiko memilih Drs. Sabirin Sarin sebagai ketua umum. Hal yang menonjol yang dilakukan oleh kepengurusan pada periode ini adalah tertibnya laporan administrasi pengelolan keuangan dan penyelenggarakaan pertemuan 18 andiko yang dilakukan setiap tahun.

Pada pemilihan pengurus untuk periode 2007 – 2010 terpilih H. Djamaran Turut sebagai ketua umum. Pada periode kepengurusan beliau ini dibangun taman dan air Manyeghai di bagian depan dan samping halaman gedung PKS Jakarta dan pembangunan gedung pendidikan berlantai dua.

Pada rapat anggota tahun 2010, terpilih H. Tommy Hamid untuk periode 2010-2013 dan berlanjut untuk periode 2013 – 2016. Pada periode beliau ini ditingkatkan fasilitas gedung dengan AC, kursi futura, dan meja rapat.