Kunjungan Ibu Meutiah Hatta ke Silungkang

SDI berdiri sejak tahun 1940. Telah banyak lulusan dari sekolah unik ini. Ada yang berkiprah di Tanah Abang, Blok M, dan tempat-tempat lain di Jawa dan Sumatera. Rata-rata memiliki tingkat kesejahteraan yang baik.

Sekolah ini memang diset dari awal untuk mencetak enterpreneur. Mulai jualan kain sampai alat berbasis IT. Kemahiran dibidang usaha ini memang dimulai dari pembentukan karakter manusianya.

Pada tanggal 25 Desember 2017 diresmikanlah surau di SMA SDI. Surau untuk orang Minang adalah tempat pembentukan karakter. Disamping itu surau ini juga jadi jembatan antara Bung Hatta dan Silungkang. Bung Hatta memang meninggalkan jejak yang kuat di Silungkang. Aliran listrik dan telepon pun atas usaha Bung Hatta. Pada akhirnya memacu industri textil di sini. Berlanjut ke industri makanan juga. Bung Hatta juga bergaul akrab dengan para perintis dari Silungkang seperti Ande Salama dan Sutan Langik.

Atas jasa-jasanyanya inilah surau di SMA SDI Silungkang ini dinamakan dengan Surau Mohammad Hatta.

Surau yang diharapkan tetap sebagai tempat penggemblengan karakter siswa. Dilengkapi dengan lapangan, tempat berwudhu yang bersih, dan bisa difungsikan untuk sekretariat PKP3KI cabang Sawahlunto.

Dihari yang sama ibu Meutiah Hatta juga meninjau pondok pesantren yang ada di Pulau. Sebuah pondok pesantren yang modern, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Untuk saat ini baru memakai 1 kelas yang nantinya akan jadi 3 kelas baru. Pelajaran diberikan setelah waktu sekolah selesai.

Siang harinya di Balai Adat Silungkang, ibu Meutiah dan rombongan dijamu makan siang. Saat ini juga digunakan untuk berdialog dengan putra-putri perintis.

Terjadi dialog yang intens disaksikan Panghulu Pucuak dan Wakil Walikota Ismed.

Satu hari sebelumnya, ibu Meutiah datang dan disambut oleh PKS Padang dan pak Asril Amir. Dikawal oleh Patwal langsung menuju UPI. Disini Meutiah melantik pengurus PKP3KI wilayah Sumbar dan cabang Sawahlunto. Ibu Meutiah menyampaikan apa itu PKP3KI, misinya dan susunan kepengurusan ditingkat pusat.

Hari berikutnya ibu Meutiah dan rombongan meninjau stasiun dan jembatan Silungkang. Dua situs ini merupakan sisa peninggalan masa kolonial. Sekaligus jadi saksi Sejarah Pemberontakan Silungkang 1 Januari 1927.

Pak Firdaus menerangkan ke ibu Meutiah kedua situs ini. Ibu Meutiah sangat tertarik dengan cerita di sekitar situs ini. Gak tahan ibu Meutiah memotret hampir seluruh sudut daerah ini.

Melintasi jembatan menyapa warga akhirnya berhenti di Tugu. Dengan terharu mengenang pengorbanan para perintis Meutiah memanjatkan doa dan menaruh karangan bunga disini. Terasa suasana jadi hening sesaat, padahal saat itu hari okok, hari pasarnya Balai Silungkang.

Lepas dari Tugu, ibu Meutiah mengelilingi pasar, berfoto, menyapa warga dan berbelanja. Wargapun antusias menyapa, berfoto dan bersalam dengan sang ibu.

Selesai di daerah balai dan stasiun, ibu Meutiah menuju pusara Ande Salama dan Ongku Shaleh Bagindo Ratu. Dua orang perintis yang dibuang ke Digul dan Surabaya.

Melewati jalur mendaki Talakbuai, Ibu Meutiah tetap semangat. Padahal umur beliau telah 70-an tahun. Kuburannya berada di ketinggian dan cukup curam pula.

Suasana asri dan tenang melingkupi, rindang dinaungi pohon-pohon. Pusara mereka bersanding dan sangat terawat. Sedikit mengenang Ande Salama yang akrab dengan Bung Hatta disampaikan oleh Prof Marzali. Ande Salama inilah yang meminta Bung Hatta untuk memasukan listrik ke Silungkang. Bung Hatta dan Ande Salama bertemu di Digul. Saking akrabnya Ande Salama bicara memakai bahasa Mandata ke Bung Hatta.

Doa dipanjatkan dan bunga ditabur di pusara.
Seluruh kegiatan hari ini juga mengunjungi Taltex And Son. Pabrik textil yang memanfaatkan listrik Bung Hatta. Memiliki belasan mesin tenun, pintal dan anian sangat modern untuk masanya. Bung Hatta juga yang meresmikan pabrik ini.

Kunjungan diakhiri ke Batu Runciang 400m diatas Silungkang. Batu runciang adalah destinasi wisata baru di Sawahlunto. Pembukaannya juga diprakarsai pemuda-pemuda Silungkang. Rencana kunjungan yang cuma 1/2 jam akhirnya molor jadi 1 jam. Ibu Mutiah nampak bahagia dan ceprat cepret sampai baterainya habis.

PKS Padang ikut memeriahkan kunjungan anak Bung Hatta ini. Datang dengan pasukan sebanyak 100-an orang . Setia menemani beliau sampai ke Batu Runciang. Foto-foto dan salam jadi menu utama.

Sumber : Yaskur Jamhur

Foto : Al Ikrom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: